BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Islam sebagai agama rahmamatan lil ‘alamin mencakup ajaran-ajaran yang bersifat manusiawi dan universal, yang dapat menyelamatkan manusia dan alam semesta dari kehancuran. Karena itu, Islam menawarkan nilai-nilai, norma-norma, dan aturan-aturan hidup yang bersifat manusiawi dan universal itu kepada dunia modern dan diharapkan mampu memberikan alternatif-alternatif pemecahan terhadap berbagai problematika hidup manusia.

Bahwa keberadaan harta diorentasikan untuk mendukung kepentingan manusia dan hanya merupakan alat untuk mendekatkan diri kepada Allah. Selain untuk memenuhi kebutuhan diri, keluarga, kerabat dan untuk perawatan kekayaan, harta juga harus dialokasikan untuk perjuanagan atas nama agama, kepenigan kemanusiaan, dan penghargaan atas jasa orang lain terhadapa kekayaan yang dimiliki. Inilah yang sesungguhnya merupakan bentuk kongkrit harta yang berkarakter rahmatan lil ‘alamin.

Kepemilikan harta sebagai rintisan untuk memperoleh keridlaan Allah swt. dalam pandangan Islam harus diikuti dengan adanya kerjasama antar warga masyarakat untuk menciptakan jaminan sosial. Langkahnya diawali dengan usaha terus-menerus untuk membentuk pribadi-pribadi yang bertanggung jawab. Fase inilah kemudian akan mengantarkan terciptanya keluarga dan masyarakat dengan karakter tanggung jawab tinggi dan akhirnya kepedulian akan kondisi masyarakat menjadi hal yang merata bagi semua anggota masyarakat. Negara diharapkan menjadi mediasi bagi tercapainya kondisi itu.

Salah satu ajaran penting dalam Islam adalah adanya tuntunan agar manusia berupaya menjalani hidup secara seimbang, memperhatikan kesejahteraan hidup di dunia dan keselamatan hidup di akhirat. Sebagai prasyarat kesejahteraan hidup di dunia adalah bagaimana sumber-sumber daya ekonomi dapat dimanfaatkan secara maksimal  dan benar dalam kerangka Islam. Di sini, Al-Qur’an turut memberikan landasan bagi perekonomian umat manusia.

Distribusi merupakan salah satu aktivitas perekonomian manusia, di samping produksi dan konsumsi. Dorongan al-Qur’an pada sektor distribusi telah dijelaskan secara eksplisit. Ajaran Islam menuntun kepada manusia untuk menyebarkan hartanya agar kekayaan tidak menumpuk pada segolongan kecil masyarakat saja. Pendistribusian harta yang tidak adil dan merata akan membuat orang yang kaya bertambah kaya dan yang miskin semakin miskin. Sebagai salah satu aktivitas perekonomian, distribusi menjadi bidang kajian terpenting dalam perekonomian. Distribusi menjadi posisi penting dari teori mikro Islam sebab pembahasan dalam bidang distribusi ini tidak berkaitan dengan aspek ekonomi belaka tetapi juga aspek sosial dan politik sehingga menjadi perhatian bagi aliran pemikir ekonomi Islam dan konvensional sampai saat ini.

B.     Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka pemateri merumuskan permasalahan sebagai berikut.

  1. Bagaimana konsep  distribusi antara individu?
  2. Bagamana konsep distribusi oleh Negara?
  3. Bagaimana model Baitul Maal zaman Rasulullah?

C.    Tujuan Penulisan

  1. Untuk mengetahui  konsep  distribusi antara individu
  2. Untuk mengetahui konsep distribusi oleh Negara
  3. Untuk mengetahui model Baitul Maal zaman Rasulullah.

BAB II

PEMBAHASAN

A.    Distribusi Antar Individu

1.      Pengertian Distribusi

Kata distribusi jika diterjemahkan secara leteral kedalam bahasa arab menjadi kata wazza’a-yuwazzi’u-tauzi’un yang berarti distribusi, dalam Al-Quran ada 3 tempat dalam surat yang sama yang menyebutkan kata-kata ini, 2 tempat dalam bentuk kata yang sama yaitu yuza’u (surat Al-Namlu ayat 17 dan 83) serata satu ayat dalam bentuk amr yaitu auzi’ni.

An-namlu ayat 17 dan 83, 19

uŽÅ³ãmur z`»yJø‹n=Ý¡Ï9 ¼çnߊqãZã_ z`ÏB Çd`Éfø9$# ħRM}$#ur Ύö©Ü9$#ur ôMßgsù tbqããy—qムÇÊÐÈ  

 

“dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan)”

tPöqtƒur çŽà³øtwU `ÏB Èe@à2 7p¨Bé& %[`öqsù `£JÏiB Ü>Éj‹s3ム$uZÏG»tƒ$t«Î/ ôMßgsù tbqããy—qムÇÑÌÈ  

 

“dan (ingatlah) hari (ketika) Kami kumpulkan dari tiap-tiap umat segolongan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, lalu mereka dibagi-bagi (dalam kelompok-kelompok).”

zO¡¡t6tGsù %Z3Ïm$|Ê `ÏiB $ygÏ9öqs% tA$s%ur Éb>u‘ ûÓÍ_ôãΗ÷rr& ÷br& tä3ô©r& štFyJ÷èÏR ûÓÉL©9$# |MôJyè÷Rr& ¥’n?tã 4’n?tãur ž”t$Î!ºur ÷br&ur Ÿ@uHùår& $[sÎ=»|¹ çm8|Êös? ÓÍ_ù=Åz÷Šr&ur y7ÏGpHôqtÎ/ ’Îû x8ϊ$t7Ï㠚úüÅsÎ=»¢Á9$# ÇÊÒÈ  

 

“Maka Dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) Perkataan semut itu. dan Dia berdoa: “Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”.

            Kata yuza’una adalah bentuk majhul dari kata yuwazi’u terjemahan literalnya adalah mereka diatur atau dibagi-bagi, ketika kata aturan itu diucapkan tentu secara tidak langsung dia mengandung dua makna yaitu peritah dan larangan hal ini senada dengan apa yang disampaikan Qurasy Shihab dalam menafsirkan kata yuza’u ini, yaitu mengesankan ada petugas yang mengatur-memerintah dan melarang–serta menghalangi adanya ketidak tertiban dan dengan demikian, semua terlaksana dengan teratur serta tunduk penuh disiplin. Yang melanggar akan dijatuhi sanksi oleh komandannya.

            Jadi dapat kita pahami bahwa distribusi menurut perspektif Al-Quran adalah pembagian atau pengaturan yang didalamnya ada bentuk kesyukuran atas nikmat Allah SWT, atau jika kita kaitkan dengan harta maka distribusi merupakan bentuk pembagian atau pengaturan harta seseorang atau negara untuk orang lain oleh badan-badan tertentu sebagai bentuk kesyukuran kepada Allah SWT.

            Menurut kamus bahasa Indonesia distribusi diartikan sebagai pembagian, penyaluran, pengiriman kepada beberapa orang atau kebeberapa tempat. Dalam kamus ekonomi distribusi dimaksudkan sebagai pembgaian barang-barang keperluan sehari-hari oleh pemerintah kepada pegawai negeri, penduduk dan sebgainya.

            Dari beberapa definisi diatas tentu dapat kita ambil kesimpulan bahwa definisi distribusi dalam Islam lebih luas maknanya ketimbang definisi konvensional dalam islam definisi distribusi ini meliputi aspek filosofis dan normatif, akan tetapi makna distribusi dalam pengertian normal hanya bersifat normatif praktis.

2.      Distribusi antar individu dalm Islam

Manusia dalam hidupnya selalu membutuhkan yang lain. Seseorang tidak akan menguasai pengetahuan semua hal yang dibutuhkan selama hidupnya dan manusia berusaha keras, usia akan membatasi dirinya. Disinilah kemaslahantan hidup manusia sangat tergantung padanya. Oleh karena itu, Allah swt memberi kemudahan pada setiap orang untuk menguasai pengetahuan salah satu diantaranya, sehingga manusia dapat bekerja sama dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Seperti Firman Allah swt dalam surah Az-Zukhruf ayat 32:

4….. ß`øtwU $oYôJ|¡s% NæhuZ÷t/ öNåktJt±ŠÏè¨B ’Îû Ío4quŠysø9$# $u‹÷R‘‰9$# 4 $uZ÷èsùu‘ur öNåk|Õ÷èt/ s-öqsù <Ù÷èt/ ;M»y_u‘yŠ x‹Ï‚­Gu‹Ïj9 NåkÝÕ÷èt/ $VÒ÷èt/ $wƒÌ÷‚ß™ 3 ….. ÇÌËÈ    

Artinya: “Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain” (QS. Az-Zukhruf: 32)

            Bahwa seorang yang fakir membutuhkan orang kaya sedangkan orang kaya membutuhkan tenaga orang miskin. Dari hasil tolong menolong tersebut, manusia akan semakin mudah dalam menjalankan aktifitas ibadah kepada-Nya. Dalam konteks ini Allah swt, berfirman yang berbunyi: ….”wata’ aawanuu ‘alal birri wattaqwaa” yang artinya:“…..tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa…(QS. Al-Maidah: 2)

            Kata Rasulullah SAW, ”Sesungguhnya Allah swt selalu mendorong hambanya-Nya selama hamba-Nya tersebut menolong saudara muslimnya” (HR. Bukhari-Muslim)

            Distributor antar individu sangat terkait dengan kepemilikan. Dalam Islam, kepemilikan harta didasarkan pada agama. Sedang kepemilikan tidak member hak mutlak kepad pemiliknya untuk mempergunakan semaunya sendiri, melainkan harus sesuai dengan beberapa aturan. Hal ini dikarenakan kepemilikan harta pada esesinya hanya sementara, tidak abadi, dn tidak lebih dari pinjaman terbatas dari Allah. Terkait dengan kepemilikan pribadi. Hal ini mrupakan kepemilikan yang manfaatnya hanya berkaitan dengan satu orang saja dan tidak ada orang lain yang ikut andil dalam kepemilikan itu. Contoh, kepemilikan rumah, mobil, motor, dan sebagainya.

            Sistem ekonomi Islam memang luar biasa, dalam Islam ditentukan landasan dasar atau peraturan dasar yang bisa membuat kita menyusun  sebuah rancangan ekonomi yang sesuai di setiap masa. Akan terlihat dengan jelas tujuan dan maksud dari Al-Qur’an dan hadits yang mengatur segala aspek kehidupan sebagaiman mestinya.

            Dalam aspek kehidupan, mulai dari urusan pribadi sampai budaya dan maslah sosial, Islam menentukan landasan yang sama untuk pedoaman manusia. Di bidang ekonomi, Islam telah membuat beberapa peraturan dan menyusun sejumlah batasan dimana kita boleh membuat suatu system, sebagaimana perkembangan yang ada, kita harus menyimpulkan peraturan baru yang berada pada batasan-batasan yang ditentukan oleh Islam.

            Tentang kebebasan individu. Kenapa Islam menjunjung tinggi kebebasan individu? Jawabannya karena Islam menganggap seseorang itu bertanggung jawab secara individu kepada Allah. Pertanggungjawaban ini tidaklah secara kolektif, tetapi setiap individu bertanggung jawab terhadap perbuatanya. Oleh karena itu, Islam menetukan peraturan ekonomi yang menghasilakan secara maksimal terhadap kegiatan ekonomi kepada setiap individu, dan mengikat mereka yang hanya kepada batasan-batasan yang sekiranya penting untuk menjaga mereka tetap pada jalur yang telah ditentukan.

B.     Distribusi Oleh Negara

1.      Pengelolaan Kekayaan Negara

Kekayaan milik Negara atau harta-harta yang menjadi wewenang negara dan keterangannya tersebut dalam kitab Al-Qur’an dan Sunah Rasul, ada tiga macam:

  1. Harta rampasan perang (ghonimah)
  2. Harta sedekah dan zakat
  3. Harta sitaan (Al Fei’)

Dari tiga hal di atas, pengertiannya dapat dijelaskan sebagai berikut:

Yang dimaksud harta rampasan perang (ghonimah) ialah harta yang didapat dari hasil pertempuran dengan kaum kafir, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an, yang artinya:

y7tRqè=t«ó¡o„ Ç`tã ÉA$xÿRF{$# ( È@è% ãA$xÿRF{$# ¬! ÉAqߙ§9$#ur ( (#qà)¨?$$sù ©!$# (#qßsÎ=ô¹r&ur |N#sŒ öNà6ÏZ÷t/ ( (#qãè‹ÏÛr&ur ©!$# ÿ¼ã&s!qߙu‘ur bÎ) OçFZä. tûüÏZÏB÷s•B ÇÊÈ  

“mereka menanyakan kepadamu tentang pembagian harta rampasan perang, katkannlah harta rampsan perang itu kepunyaan Allah dan Rasul, sebab itu bertaqwalah kepada Allah dan perbaikilah hbungannmu diantara sesamamu dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu orang yang beriman (QS. Al-Anfal: 1)

            Makna ayat in menyebutkan bahwa harta rampasan atau ghanimah dinamakan Al Anfal. Sedangkan Al Anfal itu milik Allah dan Rasul-Nya, yang artinya bahwa pengelolaan harta rampasan itu sudah ketentuannya dari Allah dan Rasulullah. Masih dalam surat Al Anfal, Allah menjelaskan tentang harta rampasan atau ghonimahini.

            Artinya:

            “maka makanlah dari sebagian rampsan perang yang telah kamu ambil itu, sebagai makanan yang halal lagi baik, dan, bertqwalah  kepada Allah, sesungguhnya Allah maha pengampun lagi maha penyayang”

Ayat di atas menjelaskan bahwa ghonimah itu berarti harta rampasan perang dan harta rampsan itu adalah sesuatu yang lebih baik.

Selanjutnya, yang dimaksud harta harta sedeqah dan zakat, yaitu harta sedekah dan zakat yang diterankan di dalam Al-Qur’an dan sunnah Rasul ialah harta yang dihasilkan antara lain dari:

Zakat, Zakat adalah sebagai pokok dari segala macam sedekah

Sodaqatul Fitr, Yang yang biasa disebut zakat fitrah

Infak, Ialah harta yang dinafkahkan ketika ada hal-hal yang mengharuskan menafkahkannya berdasarkan kebutuhan dan kepentingan.

            Sedekah adalah satu bagian dari tata aturan Islam mengenai bidang harta dan kemasyarakatan, karena masalah sedekah zakat ini dibicarakan dalam buku yang membahas tetnang keuangan Negara.

2.      Pola memanfaatan kekayaan Negara

Ekonomi yang sehat dari suatu Negara adalah adanya keseimbangan antara kekayaan Negara yang masuk dan yang dikeluarkan. System atau pemanfaatnnya akan sangat menetukan keseimbangan. Islam memandang pentingnya ekonomi, walaupun bukan segala-galanya. Bagaian dari ekonomi Negara yaitu harta kekayaan Negara, yang bermanfaat untuk mengurusi manusia yang hidup di suatu Negara itu.

Kepentingan ekonomi sama dengan kepentingan bidang kehidupan lainnya, system ekonomi dengan pola pemanfaatan kekayaan Negara dapat mengatur kehidupan jasmaniyah sedang agama mengatur keidupan rohaniah. Kaduanya harus seimbang. Pola dasar pemanfaatan kekayaan Negara ini didasarkan pada firman Allah dalam Surah Al-Imran: 104

`ä3tFø9ur öNä3YÏiB ×p¨Bé& tbqããô‰tƒ ’n<Î) Ύösƒø:$# tbrããBù’tƒur Å$rã÷èpRùQ$$Î/ tböqyg÷Ztƒur Ç`tã ̍s3YßJø9$# 4 y7Í´¯»s9’ré&ur ãNèd šcqßsÎ=øÿßJø9$# ÇÊÉÍÈ    

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Imran: 104)

Pemanfaatan kekayaan Negara itu tidak lepas dari tiga unsur:

  1. Unsur pemanfaatan lewat kejiwaan yang tumbuh dari iman dan landasan aqidah yang mendorong timbulnya kegiatan-kegiatan dengan tujun moral, kemasyarakatan dan kemanusiaan.
  2. Unsur pemanfaatan dengan kaedah aturan apabila dilaksanakan menjamin lahirnya masyarakat yang mempunyai gairah kerja, rasa keadilan dan solidaritas yang tinggi dan tetap memperhatikan kenyataan yang ada pada perbedaan kesungguhan kerja di dalam masyarakat.
  3. Unsur penguasa yang berusaha untuk dapt tegaknya nilai-nilai keadilan. Melindungi kepentingan perorangan dan kecukupan di dalam kehidupan masyarakat, Negara menurut ajaran Islam pemerintahnya berkewajiban menjamin tegaknya keadilan terpenuhi kebutuhan-kebutuhan rakyatnya.

C.    Model Bitul Maal Zaman Rasulullah

Baitul Mal merupakan institusi khusus yang menangani harta yang diterima negara dan mengalokasikannya bagi kaum Muslim yang berhak menerimanya. Setiap harta, baik berupa tanah, bangunan, barang tambang, uang, maupun harta benda lainnya; di mana kaum Muslim berhak memilikinya sesuai hukum syara’, yang tidak ditentukan individu pemiliknya, walaupun ditentukan jenis hartanya; maka harta tersebut adalah hak Baitul Mal kaum Muslim. Tidak ada perbedaan, baik yang sudah masuk ke dalamnya maupun yang belum. Demikian pula setiap harta yang wajib dikeluarkan untuk orang-orang yang berhak menerimanya, untuk kemaslahatan kaum Muslim dan pemeliharaan urusan mereka, serta untuk biaya mengemban dakwah, merupakan kewajiban atas Baitul Mal, baik dikeluarkan secara riil maupun tidak. Baitul Mal dengan pengertian seperti ini tidak lain adalah sebuah lembaga.

Jadi, Baitul Mal adalah tempat penampungan dan pengeluaran harta, yang merupakan bagian dari pendapatan negara. Baitul Mal sebagai sebuah lembaga didirikan pertama kalinya setelah turunnya firman Allah Swt -yakni di Badar seusai perang, dan saat itu para sahabat berselisih tentang ghanimah:

y7tRqè=t«ó¡o„ Ç`tã ÉA$xÿRF{$# ( È@è% ãA$xÿRF{$# ¬! ÉAqߙ§9$#ur ( (#qà)¨?$$sù ©!$# (#qßsÎ=ô¹r&ur |N#sŒ öNà6ÏZ÷t/ ( (#qãè‹ÏÛr&ur ©!$# ÿ¼ã&s!qߙu‘ur bÎ) OçFZä. tûüÏZÏB÷s•B ÇÊÈ  

“mereka menanyakan kepadamu tentang pembagian harta rampasan perang, katkannlah harta rampsan perang itu kepunyaan Allah dan Rasul, sebab itu bertaqwalah kepada Allah dan perbaikilah hbungannmu diantara sesamamu dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu orang yang beriman

(QS. Al-Anfal: 1)

Diriwayatkan dari Said bin Zubair yang berkata: ‘Aku pernah bertanya kepada Ibnu Abbas tentang surat al-Anfal, maka dia menjawab: ‘surat al-Anfal turun di Badar.’ Ghanimah Badar merupakan harta pertama yang diperoleh kaum Muslim setelah ghanimah yang didapat dari ekspedisi (sarayah) Abdullah bin Jahsyi. Pada saat itu Allah menjelaskan hukum tentang pembagiannya dan menjadikannya sebagai hak seluruh kaum Muslim. Selain itu, Allah juga memberikan wewenang kepada Rasul saw untuk membagikannya dengan mempertimbangkan kemaslahatan kaum Muslim, sehingga ghanimah tersebut menjadi hak Baitul Mal.

Pada masa pemerintahan Rasulullah, Baitul Maal terletak di Masjid Nabawi yang ketika itu digunakan sebagai kantor pusat Negara yang sekaligus sebagai tempat tinggal Rasulullah. Binatang-binatang yang merupakan perbendaharaan Negara tidak disimpan di Baitul Maal. Sesuai dengan alamnya, binatang-binatang tersebut ditempatkan di alam terbuka.

Adapun Baitul Mal yang berarti tempat penyimpanan harta yang masuk dan pengelolaan harta yang keluar, maka di masa Nabi saw belum merupakan tempat yang khusus.  Ini disebabkan harta yang masuk pada saat itu belum begitu banyak. Lagi pula hampir selalu habis dibagikan kepada kaum Muslim, serta dibelanjakan untuk pemeliharaan urusan mereka. Pada saat itu Rasulullah saw segera membagikan harta ghanimah, dan seperlima bagian darinya (alakhmas) segera setelah selesainya peperangan tanpa menunda-nundanya lagi. Dengan kata lain, beliau segera membelanjakannya sesuai ketentuan.

Harta yang merupakan sumber pendapatan Negara disimpan di baitul maal dalam jangka waktu singkat untuk kemudian didistribusikan kepada masyarakat hingga tidak tersisa sediktipun.

Praktik pengumpulan dan pendistribusian harta yang dilakukan Rasulullah inilah yang kemudian menjadi cikal bakal Baitul Maal.  Pada praktiknya, institusi pengumpulan dan pendistribusian harta di masa Rasulullah belumlah berupa organisasi yang kompleks, melainkan Rasulullah dibantu oleh beberapa sahabatnya untuk mencatat pemasukan dan pengeluarannya.  Pada kenyataannya harta baitul maal dimasa Rasulullah langsung dibagikan kepada yang berhak dan untuk kemaslahatan ummat bahkan bagian dirinya dan keluarganya sendiripun seringkali dilepaskan untuk yang lebih membutuhkan dan untuk kepentingan ummat. Salah seorang sekretaris Nabi, Handhalah bin Syafiy meriwayatkan Rasulullah bersabda :

”Tetapkanlah dan ingatkanlah aku (laporkanlah kepadaku) atas segala sesuatunya.  Hal ini beliau ucapkan tiga kali.  Handhalah berkata : ”suatu saat pernah tidak ada harta atau makanan apapun padaku (di baitul maal) selama tiga hari, lalu aku laporkan pada Rasulullah (keadaan tersebut).  Rasulullah sendiri tidak tidur dan di sisi beliau tidak ada apapun”.

Pada tahun pertama kekhalifahan Abu Bakar, keadaan seperti itu berlangsung sama. Jika datang harta dari berbagai daerah taklukan langsung dibawa ke Masjid Nabawi dan langsung dibagikan.  Tetapi pada tahun kedua, pemasukan harta jauh lebih besar sehingga Abu Bakar pun menjadikan sebagian ruang dirumahnya sebagai pusat penampungan dan pendistribusian harta itu untuk kemaslahatan kaum muslimin.

Di era kekhalifahan Umar bin Khathab, perluasan kekuasaan wilayah Islam berkembang pesat. Persia dan Romawi berhasil ditaklukan, maka semakin besar volume pundi-pundi kekayaan yang mengalir ke Madinah.  Khalifah Umar pun memerintahkan untuk membangun tempat khusus sebagai tempat penampungan harta itu sekaligus ia menyusun struktur organisasi untuk mengurus aktivitas  baitul maal tersebut.

Fungsi dan tujuan itu terlihat nyata dari bentuk struktur organisasi baitul maal dimasa Khlifah Umar bin Kathab.  Umar membentuk :

a.      Departemen Pelayanan Militer.

Fungsi utama departemen ini, adalah medanai aktivitas dan kebutuhan pasukan termasuk untuk pembayaran gaji, pensiun dan jaminan masa depan keluarganya.

b.      Departemen Kehakiman dan Eksekutif.

Tugas departem pokok departemen ini, adalah membiayai aktivitas pelayanan hukum dan publik termasuk membayar gaji para hakim dan pejabat negara sesuai dengan kecukupan yang wajar agar mereka tidak melakukan praktik korupsi atau menerima suap.

c.       Departemen Pendidikan dan Pelayanan Islam

Departemen bertugas mendistribusikan pembiayaan untuk kebutuhan pencerdasan ummat dan aktivitas dakwah termasuk pembayaran gaji guru dan juru dakwah serta keluarganya.

d.      Departemen Jaminan Sosial.       

Jaminan hidup bagi anak-anak yati, kaum fakir dan miskin, janda-jand tua dan orang jompo, orang cacat, pembiayaan pernikahan, persalinan dan jaminan kebutuhan hidup keluarga yang tidak mampu dan untuk kemaslahatan ummat lainnya adalah menjadi tugas utama departemen jaminan sosial ini. 

Pada masa umar pula struktur organisasi ini berkembang seiring dengan perkembangan permasalahan yang terjadi, seperti pembentukan cabang-cabang baitul maal di wilayah-wilayah taklukan, pembentukan sistim diwan, membentuk tim sensus penduduk (nassab) untuk menentukan indeks kebutuhan dan jaminan sosial bagi masyarakat.

BAB III

PENUTUP

A.    Simpulan

Sistem ekonomi Islam memang luar biasa, dalam Islam ditentukan landasan dasar atau peraturan dasar yang bisa membuat kita menyusun  sebuah rancangan ekonomi yang sesuai di setiap masa. Akan terlihat dengan jelas tujuan dan maksud dari Al-Qur’an dan hadits yang mengatur segala aspek kehidupan sebagaiman mestinya. Dalam aspek kehidupan, mulai dari urusan pribadi sampai budaya dan maslah sosial, Islam menentukan landasan yang sama untuk pedoaman manusia.

Di bidang ekonomi, Islam telah membuat beberapa peraturan dan menyusun sejumlah batasan dimana kita boleh membuat suatu system, sebagaimana perkembangan yang ada, kita harus menyimpulkan peraturan baru yang berada pada batasan-batasan yang ditentukan oleh Islam.

Disamping itu Islam telah mengenal sistem perebendaharaan negara jauh sebelummnya, yaitu Baitul Maal. Baitul Maal adalah institusi moneter dan fiskal Islam yang berfungsi menampung,  mengelola dan mendistribusikan kekayaan negara untuk keperluan kemaslahatan ummat. Keberadaan baitul maal pertamakali adalah sejak setelah turun wahyu yang memerintahkan Rasulullah untuk membagikan ghanimah dari perang Badr.

B.     Saran

Ekonomi Islam harus dikembangkan dan didukung oleh sebuah sistem yang baik, maka yang paling penting adalah membangun perekonomian umat secara nyata, sehingga bisa dirasakan secara lebih luas oleh masyarakat dalam bentuk pengembangan dan pembangunan . Kita berharap sistem ekonomi Islam akan berkembang dari ekonomi alternatif menjadi satu-satunya sistem ekonomi yang mampu mensejahterakan umat dan bangsa kita, sekarang maupun di masa yang akan datang.

DAFTAR PUSTAKA

Karim, Adiwarman Azwar, 2001. Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, Yogyakarta, Pustaka Palajar

Kholis,   Nur.,  dkk. 2012.  Pengantar Ekonomi Islam, Yogyakarta: Koperasi Wilayah II UIN Sunan Kalijaga

 

 

About ahmadarkam

Ahmad Angka bin Samire bin Sabang lahir di Mattirowalie 16 Juni 1994, di sebuah keluarga yang sangat sederhana dengan mata pencarian Bertani. Beribukan Saleha binti Badu yang merupakan keluarga bugis Bone.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s